Pertahankan bisnis, Putra Rajawali Kencana (PURA) diversifikasi produk yang diangkut

Tanggal

23 Jun 2020

Kategori

Bisnis

Dilansir Oleh

Bagikan




KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun ini, emiten sektor transportasi PT Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA) berupaya melakukan diversifikasi produk yang diangkut. Corporate Secretary PT Putra Rajawali Kencana Tbk Ratna Hidayati menjelaskan diversifikasi dilakukan agar bisnis PURA tetap berlanjut.

"Salah satu upaya dalam sustainabilitas perusahaan, " jelasnya ketika dihubungi Kontan.co.id, Selasa (23/6).

Selama ini, emiten yang melantai di bursa sejak bulan Januari 2020 itu memiliki klien loyal di bidang box culvert, bata ringan, gula rafinasi, semen, pupuk, dan aneka barang pendukung infrastruktur.

Baru-baru ini PURA mengantongi kontrak baru, yakni pengangkutan tetes tebu dari salah satu pabrik etanol di Jawa Timur.

"Kontrak pengangkutan ratusan ribu ton volume tetes tebu ini sudah kami dapatkan pada musim giling tahun ini,” kata Direktur PT Putra Rajawali Kencana Tbk Yonathan Himawan Hendarto dalam keterangan yang disampaikan kepada Kontan.co.id, Senin (22/6). Nilai kontrak baru itu mencapai Rp 25 miliar.

Ratna menambahkan, selain pengangkutan tetes tebu itu, saat ini PURA masih dalam proses finaliasi kontrak produk paper roll dan Air Minum dalam Kemasan (AMDK).

Kontrak baru juga menjadi salah satu upaya PURA untuk meningkatkan kinerjanya di tengah pandemi Covid-19. Asal tahu saja, selama ini pandemi Covid-19 berdampak pada pembatasan operasional PURA.

Mengutip dari keterbukaan informasinya, akibat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PURA merasakan adanya pengurangan permintaan pengiriman pada transporter.

Padahal, kontribusi pendapatan dari kegiatan operasional yang mengalami pembatasan itu mencapai 25% hingga 50% dari total pendapatan di 2019. Diperkirakan pendapatan dan laba bersih PURA juga akan terkikis dengan persentase yang sama.

Pembatasan operasional akhirnya juga berdampak pada pemenuhan kewajiban pokok dan bunga utang PURA senilai Rp 20,5 miliar.

Menghadapi hal ini Ratna menjelaskan bahwa PURA melakukan restrukturisasi. "PURA melakukan restrukturisasi grace period penundaan selama kurun waktu enam bulan," jelasnya.

Bila melihat pergerakan harga sahamnya, saham PURA menguat selama sebulan terakhir hingga 16,87%. Akan tetapi, jika dilihat sejak melantai di bursa, saham PURA telah terkoreksi hingga 14,91%

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama mengamati, sejak bulan Januari saham PURA terlihat membuat harga dasar, di mana pelaku pasar berharap level support berada di Rp 70. Dalam jangka pendek PURA masih memiliki peluang untuk menguat.

Namun investor perlu antisipasi apabila PURA bergerak di bawah Rp 84. Dengan asumsi Rp 84 adalah strong support saat ini. Sementara itu, dilihat dari sisi likuiditasnya, saham PURA belum dapat dikatakan menarik.

"Apabila investor mau bertransaksi pada saham PURA, baiknya disesuaikan dengan profil risiko dan strategi," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (23/6).

Sekadar informasi, pada penutupan perdagangan Selasa (23/6), saham PURA berada di Rp 97. Saham tersebut juga tercatat menjadi top trading frequency hingga 38,044 kali.